Selasa, 14 Juni 2011

Samosir, Keindahan Pulau di tengah Danau




Samosir........ itu lah nama tempat yang saya kunjungi tempat dimana dijadikan salah satu tempat yang sakral dan bersejarah bagi masyarakat Batak khususnya, karena menurut cerita di pulau inilah tepatnya di Gunung Pusuk Buhit  pertama kalinya orang Batak diturunkan dan dikenal dengan sebutan Mula Jadi Nabolon oleh masyarakat Batak. Jadi sangatlah wajar kalau sampai saat ini Pulau Samosir masih dikeramatkan dan serta memiliki cerita sejarah bagi kaum orang batak.
Selain objek wisata bersejarah Pulau Samosir ini pun terkenal dengan keindahan alamnya, Pulau yang berada di tengah-tengah Danau Toba ini menjadi magnet tersendiri bagi para Wisatawan Asing maupun lokal untuk berkunjung kesana. Untuk menuju tempat ini tidaklah terlalu sulit dari kota Medan ataupun dari Siantar bisa menuju Parapat dilanjut ke pelabuhan Aji Bata untuk menaiki kapal Ferry menuju Samosir kurang lebih selama 45 menit, tarifnya pun tidak terlalu mahal hanya Rp.4000/orang dan jika membawa Motor atau disini yang lebih akrab dikenal dengan sebutan Kreta Rp.5000/motor, hampir setiap jam sekali kapal-kapal ini bisa mengantarkan kita ke Pulau ini. Selain jalur perairan untuk menuju tempat ini pun bisa melalui jalur darat yaitu melalui Pangururan yang menjadi tempat dimana Pulau Samosir dan Sumatera berhubungan. Jika ingin bermalam jangan khawatir karena tempat ini sudah menjadi tempat tujuan wisata asing maupun lokal jadi banyak terdapat penginapan yang dapat di sewa dengan harga yang bervariasi.
Perahu yang digunakan untuk mengangkut orang dan motor
Banyak terdapat tempat-tempat wisata menarik yang bisa dikunjungi seperti Museum Raja Batak, Gunung Pusuk Buhit, Danau Sidihoni & Aek Natongan (yang lebih dikenal dengan sebutan Danau di atas Danau), Batu Marhosa, Gua Marlakkop, air Terjun, Tuktuk Siadong, Sumur Tujuh Rasa, Makam Raja Sidabutar dan masih banyak lagi tempat-tempat yang bisa dikunjungi yang tentunya memiliki nilai sejarah dan keindahan panorama alamnya. Namun sayang kesempatan kali ini saya hanya bisa mengunjungi beberapa tempat dikarenakan keterbatasan waktu (sudah dipanggil bos untuk kembali kerja.. hehehe,,,) beberapa tempat yang bisa saya kunjungi Tuktuk, Museum Raja Batak, air terjun (itupun hanya melihat dari kejauhan) dan Makam Raja Sidabutar saja. Ada yang unik jika ingin memasuki kawasan pemakaman Raja Sidabutar yaitu wajib mengenakan kain Ulos khas Batak yang diselempangkan ke bahu (menurut penduduk setempat sih untuk menghormati arwah yang ada dimakam), namun jangan khawatir dipintu makam disediakan kain ulos yang dapat digunakan tanpa dipungut bayaran tetapi memberikan sumbangan seikhlasnya untuk kebersihan makam dan dimasukan ke kotak yang sudah disediakan diareal makam. Disarankan jika ingin berkunjung kesana membawa kendaraan pribadi agar mempermudah untuk berkeliling Pulau Samosir. Berikut beberapa fotonya...

Museum Raja Batak



                                        









Makam Budaya Raja Sidabutar


Membahas dan membicarakan tentang Pulau Samosir baik dari segi wisata sejarah maupun potensi alam yang dimiliki tidak akan pernah merasa puas bila tidak mengunjungi langsung dan merasakan sensasi tempat ini sendiri.... :)

Danau Toba...



Welcome to Lake Toba................... kata-kata ini dengan sangat mudah dijumpai jika kita berkunjung ke Sumatra Utara karena memang tempat ini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia khususnya bagi orang-orang ”penggila” traveling menjadikan salah satu daftar tempat yang wajib dikunjungi. Danau yang terbesar di Indonesia bahkan terbesar di Asia Tenggara ini merupakan Danau Vulkanik yang terbentuk akibat letusan gunung api berjuta-juta tahun lalu memiliki panjang sekitar 100 kilometer dengan lebar  30 kilometer, setelah letusan gunung api tersebut terbentuklah kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi sebuah Danau yang dikenal dengan sebutan Danau Toba.
Dengan luas Danau yang  mencapai 100 kilometer ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama jika ingin mengelilingi Danau ini sekitar 2-3 hari, banyak kegiatan yang dapat dilakukan sesampainya di Danau seluas 100 kilometer ini seperti berkano, bermain perahu bebek, ataupun sekedar memancing dan beberapa kegiatan lainnya. Untuk menuju tempat ini tidaklah sulit selain melalui Parapat bisa juga di tempuh dengan melalui jalur sipiso-piso melalui Brastagi menuju ke Kabanjahe.


Perjalanan saya kali ini berawal dari teman kantor dari pusat yang  sedang berkunjung ke kantor Medan meminta ditemani untuk berkeliling sekedar melepas penat, akhirnya saya dan teman saya menemani ke air terjun sipiso-piso hanya sekitar 4 jam perjalanan dari kota Medan melalui kota Brastagi, disana kami tidak terlalu lama karena cuaca yang kurang bersahabat.  Dengan beralaskan kata  “Mumpung”  ada di sipiso-piso tidak sah rasanya jika tidak berkunjung ke Danau Toba karena jaraknya yang  tidak terlalu jauh, akhirnya kami mengajak teman yang datang jauh-jauh dari Jakarta untuk sekedar menikmati keindahan alam dari Danau yang terkenal seantero jagad itu.. Segelas bandrek susu dari sebuah kedai yang ada di bibir Danau kala itu menemani kami ditengah cuaca yang kurang bersahabat sambil disuguhkan pemandangan alam yang luar biasa indah oleh sang Pencipta. Akhirnya setelah cukup lama kami bersenda gurau, berbagi cerita kamipun kembali menuju kendaraan untuk kembali ke Medan dan melakukan aktivitas seperti sediakala. Dengan perasaan puas dan takjub kami meninggalkan Danau yang terbesar di Asia Tenggara itu.... :)

air terjun sipiso-piso



Sabtu, 11 Juni 2011

Sabang, Kilometer Nol Indonesia




Sabang  kota yang berada di Pulau Weh, yang  terletak di ujung Pulau Sumatra ini menjadi tujuan saya selanjutnya. Saya dan beberapa teman sengaja menghabiskan waktu liburan kali ini untuk mengunjungi Kota yang terkenal dengan “Titik Nol Kilometer Indonesia” dan keindahan panorama alamnya.  Perjalanan saya diawali dari kota medan dengan menaiki bus malam dengan tujuan Banda Aceh, setelah 12 jam perjalanan kami tiba di kota Banda, di lanjut dengan menaiki labi-labi atau di Jakarta di kenal dengan sebutan “angkot” menuju pelabuhan Ule lheue untuk menyebrang ke pelabuhan Balohan kota Sabang. Ada dua pilihan untuk menyebrang ke Pulau Sabang, pertama dengan kapal lambat (Kapal Ferry) perjalanan dapat di tempuh kurang lebih 1,5 – 2 jam jika kondisi laut sedang bagus dan tentunya dengan tarif yang lumayan terjangkau hanya Rp.17.000, dan pilihan kedua menaiki kapal cepat dengan harga yang memang jauh lebih mahal sekitar Rp.60.000 namun waktu tempuhnyapun jauh lebih cepat tidak sampai 1 jam sudah tiba di pelabuhan Balohan kota Sabang. Kami lebih memilih menumpang kapal lambat untuk menghemat ongkos dan tentunya lebih menikmati perjalanan. Hehehe







Setibanya di pelabuhan Balohan satu-satunya pilihan untuk menuju Titik kilometer Nol Indonesia ataupun mengelilingi kota Sabang hanya dengan menyewa mobil (disana dikenal dengan sebutan Taksi) tarif perkepala Rp.50.000 tujuan tugu kilometer nol ataupun Iboih, Rp.25.000 bila ingin ke kotanya dan itu hanya sekali jalan (disarankan membawa kendaraan pribadi biar lebih hemat). Terdapat banyak pilihan penginapan bagi wisatawan yang berkunjung ke Sabang salah satunya adalah Iboih, tempat ini menawarkan pemandangan yang sangat indah karena lokasinya berada tepat di bibir pantai dan berseberangan dengan Pulau Rubiah, Pulau yang menjadi tujuan wisatawan untuk sekedar berkeliling, melakukan snorkling ataupun diving karena memiliki keindahan bawah laut yang tidak kalah dengan tempat-tempat lain di Indonesia ataupun di Luar. Dari Iboih ini tidak terlalu jauh bila ingin ke Tugu Kilometer Nol Indonesia hanya berjarak sekitar 8 km saja, namun tempat ini jauh dari kota jadi tidak banyak pilihan untuk mencari tempat makan ataupun sekedar berkeliling. 




Selain Iboih ada Gapang sebagai pilihan lain untuk menginap yang letaknya tidak jauh dari Iboih dan Penginapan Fredy yang letaknya dekat dengan kota. Semua tempat ini menawarkan pemandangan yang indah dengan tarif penginapan yang berbeda-beda juga tentunya.




Tidak sah memang rasanya bila berkunjung ke Sabang tanpa mampir ke Kilometer Nol Indonesia. Karena tempat ini merupakan magnet  untuk menarik pengunjung untuk berkunjung ke Sabang, walaupun hanya ditandai dengan didirikannya monumen atau tugu untuk menandai dimulainya perhitungan jarak dan luas teritorial Negara Indonesia, tapi lokasi ini dijadikan daftar kunjungan pertama yang wajib di kunjungi bila hendak ke Pulau Weh. Secara geografis tempat ini terletak diantara 05° 54’ 21.42”  lintang utara dan 95° 13’ 00.50” bujur Timur di ujung paling Barat wilayah Indonesia.

Monumen Kilometer Nol Indonesia



Selain Tugu Kilometer Nol Indonesia, Pulau Rubiah dan tempat lainnya ada beberapa monumen yang bisa di kunjungi diantaranya meriam peninggalan Portugis dan Tugu yang ada di sekitar Sabang Fair, selain itu ada Tugu Kembar menurut cerita Tugu ini juga dapat di jumpai di daerah Merauke makanya dikatakan sebagai Tugu Kembar.




 Tugu di Sabang Fair

Tugu Kembar

Sabang merupakan salah satu tujuan wisata di Indonesia yang wajib di kunjungi.......... :)


Selasa, 10 Mei 2011

Nuansa Pulau Pramuka, keindahan di utara Jakarta..



Taman Nasional Kepulauan Seribu merupakan salah satu perwakilan kawasan pelestarian alam bahari di Indonesia yang terletak kurang lebih 45 km sebelah Utara Jakarta. Terdapat kurang lebih sekitar 78 pulau baik pulau berpenghuni maupun pulau kosong. Diantara pulau-pulau tersebut merupakan tujuan wisata bagi wisatawan asing maupun lokal yang ingin melihat keindahan bawah lautnya salah satunya adalah pulau pramuka.


Tidak terlalu jauh dari jakarta untuk menuju pulau ini dapat menaiki kapal cepat dari pelabuhan marina, ancol atau ojek kapal dari muara angke dengan ongkos yang relatif lebih murah hanya 30 ribu, perjalanan ditempuh sekitar 2-3 jam tergantung kondisi cuaca. Namun yang perlu diingat ojek kapal ini dalam sehari hanya melayani 2 kali perjalanan yaitu pada pukul 7 pagi dan 1 siang.
Pulau pramuka memiliki beberapa fasilitas yang lebih lengkap sebagai sarana pendukung bagi wisatawan yang melancong ketempat ini dibandingkan dengan pulau-pulau lain karena pulau pramuka merupakan pusat pemerintahan kabupaten administrasi kepulauan seribu, jadi wajar bila tempat ini memiliki fasilitas yang lumayan lengkap seperti penginapan, rumah makan, lapangan olahraga (sepak bola, volli maupun bulu tangkis), masjid, rumah sakit dan beberapa fasilitas lainnya. Harga penginapan yang ditawarkanpun tidak terlalu mahal berkisar 150 ribu sampai 500 ribu tergantung fasilitas dan besar kecilnya homestay yang anda sewa.


Yang menjadi tujuan utama para wisatawan berkunjung kemari tentunya karena jerninya air, birunya laut dengan dihiasi deburan ombak dan pasir putihnya dan yang tak kalah menarik yaitu  keindahan dan kekayaan bawah lautnya yang dapat memanjakan mata para penyelam. Namun jangan khawatir bagi anda yang tidak bisa menyelam dapat pula menikmati keindahan warna-warni terumbu karang, ikan-ikan hias dan biota laut yang hidup bebas dihabitat aslinya dengan snorkling. Peralatan diving dan snorkling dapat anda sewa di beberapa penginapan yang menyediakan dengan harga yang relatif murah.








Untuk diving dan snorkling selain alat anda perlu menyewa kapal sebagai transportasi untuk berkeliling kebeberapa pulau yang ada disekitar pulau pramuka seperti pulau air ataupun semak daun untuk mencari spot-spot yang memiliki keindahan terumbu karang yang bisa memanjakan mata anda. Selain keindahan bawah lautnya pulau pramukapun memiliki tempat penangkaran penyu sisik dan penangkaran hiu yang dapat anda kunjungi. Jadi tunggu apa lagi cobalah sensasi lain dari Jakarta. SALAM LESTARI.. :)



Wisata alam Kawah Putih, Ciwidey Jawa-Barat..



Kawah putih.. mungkin nama ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat bandung khususnya, lokasi yang pertama kali di temukan oleh seorang ilmuan asal Belanda Jerman bernama Dr. Franz Wilhelm Junghun yang juga seorang pengusaha perkebunan Belanda sekitar tahun 1837. Tempat yang memiliki keindahan alam luar bisa ini merupakan kawah yang terbentuk akibat letusan gunung patuha berabad-abad silam. Letaknya yang berada di ketinggian sekitar 2.386 mdpl ini menjadikan tempat ini sangat sejuk setiap harinya.  Menuju tempat ini tidaklah terlalu sulit hanya dengan menempuh perjalanan sekitar 2,5-3 jam kearah selatan kota Bandung anda sudah bisa sampai dipintu masuk kawah putih, dari pintu masuk masih harus melalui jalan kurang lebih sejauh 5km untuk mencapai lokasih kawah, namun jalan dari pintu masuk menuju lokasi memang sedikit rusak tapi itu tidak menyurutkan niat pengunjung untuk mengunjungi tempat wisata ini.


Setelah  menuruni beberapa anak tangga kita akan disambut oleh permainan gendang dari seorang anak yang melantunkan lagu khas jawa barat yang makin menentramkan hati apa lagi dengan pemandangan kawah yang sangat indah, tanah yang dihiasi batu-batu kerikil berwarna putih, air danau yang berwarna putih kehijauan, batang-batang pohon yang mengering pun menambah kecantikan dari kawah ini, ditambah lagi pemandangan disekitar kawah masih terdapat pegunungan yang ditumbuhi pepohonan dengan hijau daunnya sungguh pemandangan yang dapat menyejukan hati dan memanjakan mata siapapun yang berada ditempat ini.





Namun mesti hati-hati tidak semua titik di lokasi ini aman untuk kita berlama-lama karena uap belerang yang berbau sangat tajam akan menyegat hidung kita. Didekat kawah dapat kita jumpai pula gua dengan kedalaman kurang lebih 5 meter yang dahulu dipakai sebagai tempat penambangan belerang, dilokasi ini pun bau belerangnya masih sangat tajam jadi tidak disarankan untuk berlama-lama didekat gua ini.


Setelah puas menikmati keindahan  kawah putih ini para pengunjung bisa mengunjungi objek wisata lain yang letaknya tidak terlalu jauh dari kawah putih diantaranya pemandian air panas ciwalini, danau situ patenggang yang memiliki daya tarik pulau asmaranya ataupun bagi anda yang hobi kegiatan berkemah bisa mengunjungi Ranca upas disini juga terdapat pemandian air panas dan penangkaran rusa. Namun jangan lupa sebelum meninggalkan lokasi ciwidey anda bisa membeli buah strawberry yang dapat  di petik sendiri sebagai buah tangan. Jadi tunggu apa lagi sisihkan waktu untuk melihat sisi lain keindahan INDONESIA..... :)

Rabu, 20 April 2011

Kok Tong Coffe




Kopi yang masuk kedalam Kingdom : Plantae, Ordo : Gentianales, Famili : Rubiaceae, dan Genus : Coffea adalah sejenis minuman yang berasal dari proses pengolahan dan ekstrak biji tanaman kopi. Secara umum, terdapat dua jenis biji kopi, yaitu  arabika dan robusta. Menurut Harvard Women’s Health, konsumsi kopi beberapa cangkir sehari dapat mengurangi risiko diabetes pembentukan batu ginjal, kanker usus besar, penyakit parkinson, kerusakan fungsi hati (sirosis), penyakit jantung serta menghambat penurunan daya kognitif otak. Selain dampak positif kopi juga memiliki efek negatif tentunya adanya Kafein sebagai kandungan utama kopi bersifat stimulan yang berakibat kecanduan. Kafein mempengaruhi sistem kardiovaskuler seperti peningkatan detak jantung dan tekanan darah, namun efek negatif itu bisa muncul bila kita mengkonsumsi secara berlebihan. Selain berdampak negatif  kafein  di dalam tubuh juga berfungsi meningkatan kerja psikomotor sehingga tubuh tetap terjaga dan memberikan efek fisiologis berupa peningkatan energi .

Di Indonesia istilah warkop mungkin tidak asing lagi di telinga kita, dari tempat nongkrong, sekedar melepas lelah sampai bisnis pun bisa terjadi dilokasi yang namanya warkop.  Didaerah Sumatra khususnya banyak sekali berdiri warung kopi, bukan hal yang sulit untuk menemuinya dari warung kopi sederhana, menengah dan super class pun ada. Kerena memang masyarakatnya yang gemar ngopi  dan itu rutinitas yang sulit untuk ditinggalkan karena sudah terbiasa dilakukan.

Salah satunya di daerah Siantar ada tempat ngopi yang bernama Kok Tong Coffe berada di daerah jalan Sutomo lantai 2, Kok Tong Coffe ini sudah berada sejak tahun 1925 . Menurut warga sekitar tempat ini memang sudah terkenal bukan hanya didaerah siantar saja tetapi diluar daerah itupun tau dan menjadi salah satu rujukan bila kita mau ngopi enak di daerah siantar. Selain tempatnya yang lumayan nyaman untuk sekedar ngobrol santai ataupun ngomongin bisnis harga yang ditawarkanpun tidak membuat dompet tipis alias standar. So kalau berkunjung ke Kota Siantar jangan lupa kunjungi Kong Tong Coffe. SALAM LESTARI.. :)



Sabtu, 16 April 2011

Perjalanan Panjang Menuju Pantai Cemara, di Pedalaman Jambi

Pada Desember 2009 saya mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan Tim Global Health Program Wildlife Conservation Society – Indonesian Program sebagai volunteer  untuk pengambilan sampel Flu Burung (H5N1) pada burung-burung  yang ada disekitar kawasan pantai cemara, selain itu juga dilakukan pencincinan (ringing) dan penandaan dengan bendera warna (color flag) pada burung yang tertangkap. Saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan ini, dan tentunya saya berangkat tidak sendiri tapi ada teman-teman dari jogja, semarang, bahkan ada teman yang datang jauh-jauh dari kalimantan untuk ikut bergabung.

Pantai Cemara berada di pedalaman Jambi yang berbatasan dengan Taman Nasional Berbak yang masuk kedalam kabupaten Tanjung Jabung. Desa Sungai Cemara merupakan perkampungan terdekat dengan Pantai Cemara yang dihuni oleh Suku Bugis, sedangkan Pantai Cemara merupakan pantai liar tanpa penghuni manusia dan banyak ditumbuhi cemara (Casuarina equisetifolia) sesuai dengan namanya. 



Untuk mencapai lokasi tersebut membutuhkan perjuangan yang ekstra karena perjalanan untuk mencapai lokasi yang cukup panjang dari transportasi udara, darat dan laut pun harus dilalui. Dari Jakarta kami terbang melaui bandara Soeta menuju bandara Sultan Thaha dengan perjalanan kurang lebih 2 jam, setelah sesampainya disana kami dijemput untuk menuju penginapan disana juga sudah menunggu volunnter Jambi yang akan bergabung juga, dia lah teman sekaligus saya jadikan guide selama saya di Jambi.. hehehe setelah beberapa hari menginap tiba lah saat yang kami tunggu-tunggu berangkat menuju Pantai Cemara. Dari Kota Jambi naik mobil sewaan menuju Suakkandis selama kurang lebih 1-2 jam, selanjutnya dilanjutkan dengan naik speed boat  menyusuri Sungai Batanghari menuju Nipah Panjang, kami sampai di Nipah Panjang hari sudah sore dan kapal jemputanpun sudah menunggu tp kami harus menunggu hingga tengah malam untuk berangkat menuju lokasi. Diselah-sela waktu kami isi dengan main kartu, bercandaan  sambil mengakrabkan diri satu sama lain. Setelah tengah malam perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan Kapal Pompong menuju Desa Sungai Cemara selama kurang lebih 6-8 jam tergantung kondisi cuaca. Selama perjalanan karena kondisi yang lelah kami pun terlelap.... Zzzzzz... dan senja pun membangunkan kami untuk melihat keindahannya.




Sesampainya dilokasi saya takjub melihat ratusan bahkan ribuan burung pantai yang sedang berjemur karena memang lokasi ini merupakan tempat persinggahan dan  salah satu tempat penting bagi burung migran, ini merupakan pemandangan sangat langka bagi saya karena pemandangan seperti ini tidak bisa saya temui di Jakarta.  Perjuangan kami belum selesai sampai disitu saja kamipun harus mendirikan tenda dan membuat camp sebagai tempat tinggal kami selama 2bulan lamanya (namun saya hanya 1 bulan mengikuti kegiatan ini).




Kegiatan utama kami selama disana yaitu melakukan pengambilan sampel flu burung (H5N1) dari burung pantai migran (Migratory shorebird), burung air (waterbird), jenis burung laut (sea bird), serta jenis burung-burung Passerin. Setelah pengambilan sampel dilakukan juga pengukuran morfometri, pemasangan cincin dan bendera warna pada burung dan setelah itu dilepas liarkan kembali. Untuk penangkapannya menggunakan Jala kabut (mist net) dan jaring satu kantung (Stationery net). Saya diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk belajar dan terlibat langsung dalam aktifitas tersebut, sungguh ini kesempatan yang sangat langka yang pernah saya dapatkan. Burung yang tertangkap diukur panjang paruh, panjang kepala (dengan paruh), panjang sayap, panjang tarsus, panjang tubuh, diameter tarsus, diameter tibia, selanjtnya diamati bulu berbiak, peluruhan bulu/ganti bulu (molting), jenis kelamin (sexing) dan umur (ageing). Kebanggaan buat saya, saya dapat melihat jenis burung dengan populasi relative kecil dan statusnya dilindungi seperti Trinil-lumpur asia (Limnodromus semipalmatus) dan Nordmann’s Greenshank (Tringa guttifer) yang sudah sangat sulit dijumpai. 






Pengalaman yang sulit untuk saya lupakan setiap malam kami bergantian mengecek mist net yang kami pasang dari sore hingga pagi hari untuk melihat jika ada burung yang tersangkut. Setiap malam harus berendam didinginnya air laut, rasa kantukpun terasa dan itu tantangan paling berat buat saya karena kami harus merubah jam tidur tidak seperti biasa, diwaktu orang tidur kami harus bangun untuk “bertugas” namun setelah beberapa hari beradaptasi sayapun bisa terbiasa dan rasa kantuk pun hilang ketika kita mendapatkan tangkapan banyak “itu justru seninya”.. waktu yang kami tunggu ketika memasuki hari jumat karena kami diberi kesempatan untuk bermain-main kedesa walaupun jaraknya tidak dekat tapi kami tetap menikmati perjalanan sambil foto-foto dan sedikit narsis. :)









Waktu tak terasa semakin hari kamipun semakin dekat tidak seperti teman lagi bahkan sudah seperti saudara sendiri, suka duka kami lewati bersama dan saling mengerti sifat masing-masing. 1 bulan telah berlalu dan tibalah untuk saya dan teman saya dari Jambi untuk kembali keperadaban.. hehehe  sebelum saya meninggalkan camp, kami diberi kesempatan untuk ikut serta dalam melakukan pendidikan lingkungan di SD setempat. Tim yang lain masih tinggal di camp sampai 1 bulan kedepan hanya beberapa orang yang ikut ke Jambi untuk belanja logistik dan keperluan-keperluan lainnya yang dibutuhkan selama disana.


Pengalaman yang tidak mungkin bisa saya lupakan dan pastinya saya akan merindukan saat-saat seperti ini lagi. Terimakasih untuk WCS yang telah memberikan saya pengalaman yang luaaaarr biasa,  teman-teman volunteer dari berbagai penjuru yang luar biasa hebat dan warga desa cemara yang memberikan sambutan hangat pada kami semua.. SALAM LESTARI.. :)